• Home
  • About
  • Subscribe to my RSS
  • @bprijambudi on Twitter
  • comments
  • Home
  • Profil Penyair
    • Indonesia
    • Persia
    • Dunia
    • Sufi
  • Puisi Penyair
    • Indonesia
      • Hamzah Al-Fansuri
      • Chairil Anwar
      • W.S. Rendra
      • Taufiq Ismail
    • Dunia
      • Fariduddin Attar
      • Jalaluddin Rumi
      • Rabiah Al-Adawiyah Al-Bashriah
      • Khalil Gibran
    • Sufi
      • Fariduddin Attar
      • Jalaluddin Rumi
      • Rabiah Al-Adawiyah Al-Bashriah
  • Network
    • baguslagu
    • baguskata
    • bagustivi
    • bagusaudio
    • bagusradio
    • bagusvideo
    • bagusdoa
    • bagusngaji
You are here : Home »
Showing posts with label Puisi Sufi. Show all posts
Alangkah buruknya,
Orang yang menyembah Allah
Lantaran mengharap surga
Dan ingin diselamatkan dari api neraka

Seandainya surga dan neraka tak ada
Apakah engkau tidak akan menyembah-Nya?

Aku menyembah Allah
Lantaran mengharap ridha-Nya
Nikmat dan anugerah yang diberikan-Nya
Sudah cukup menggerakkan hatiku
Untuk menyembah-Mu

Sumber: Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta, Cetakan Keempat Juni 1999.
Bekalku memang masih sedikit
Sedang aku belum melihat tujuanku
Apakah aku meratapi nasibku
Karena bekalku yang masih kurang
Atau karena jauh di jalan yang ‘kan kutempuh
Apakah Engkau akan membakarku
O, tujuan hidupku
Di mana lagi tumpuan harapanku pada-Mu
Kepada siapa lagi aku mengadu?

Sumber: Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta, Cetakan Keempat Juni 1999.
Ya Allah
Aku berlindung pada Engkau
Dari hal-hal yang memalingkan aku dari Engkau
Dan dari setiap hambatan
Yang akan menghalangi Engkau
Dari aku

Sumber: Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta, Cetakan Keempat Juni 1999.
Ya Tuhan, lenganku telah patah
Aku merasa penderitaan yang hebat atas segala
yang telah menimpaku
Aku akan menghadapi segala penderitaan itu dengan sabar
Namun aku masih bertanya-tanya
Dan mencari-cari jawabannya
Apakah Engkau ridha akan aku
Ya, Ya Allah
O Tuhan, inilah yang selalu mengganggu langit pikiranku  

Sumber: Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta, Cetakan Keempat Juni 1999.
Tuhan, semua yang aku dengar
di alam raya ini, dari ciptaan-Mu
Kicauan burung, desiran dedaunan
Gemericik air pancuran
Senandung burung tekukur
Sepoian angin, gelegar guruh
Dan kilat yang berkejaran
Kini
Aku pahami sebagai pertanda
Atas keagungan-Mu
Sebagai saksi abadi, atas keesaan-Mu
dan
Sebagai kabar berita bagi manusia
Bahwa tak satu pun ada
Yang menandingi dan menyekutui-Mu

Sumber: Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta, Cetakan Keempat Juni 1999.
Andai cintaku
Di sisimu sesuai dengan apa
Yang kulihat dalam mimpi
Berarti umurku telah terlewati
Tanpa sedikit pun memberi makna

Sumber: Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta, Cetakan Keempat Juni 1999.

Sulit menjelaskan apa hakikat cinta
Ia kerinduan dari gambaran perasaan
Hanya orang
yang merasakan dan mengetahui
Bagaimana mungkin
Engkau dapat menggambarkan
Sesuatu yang engkau sendiri bagai hilang
dari hadapan-Nya, walau ujudmu
Masih ada karena hatimu gembira yang
Membuat lidahmu kelu

Sumber: Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta, Cetakan Keempat Juni 1999.
Alangkah sedihnya perasaan dimabuk cinta
Hatinya menggelepar menahan dahaga rindu
Cinta digenggam walau apapun terjadi
Tatkala terputus, ia sambung seperti mula
Lika-liku cinta, terkadang bertemu surga
Menikmati pertemuan indah dan abadi
Tapi tak jarang bertemu neraka
Dalam pertarungan yang tiada berpantai

Sumber: Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta, Cetakan Keempat Juni 1999.
A. Riwayat Hidup Ibn ‘Arabi

Ibn ‘Arabi, nama lengkapnya adalah Muhyi al-din Abu ‘Abd Allah Muhammad bin ‘Ali Bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Abd Allah al-Hatmi at-Ta’i. Ia adalah seorang pemikir sufi yang sangat terkenal dalam dunia Islam. Ia juga merupakan seorang pemikir yang selalu menampilkan gagasan keagamaan yang tidak lazim, selama hidupnya tak jarang Ibn ‘Arabi mendapat kecaman dan perlawanan dari berbagai kalangan, terutama kelompok ahli fikih yang terkenal literalis dan formalis, di antaranya adalah Ibn Taymiyyah dan Ibn al-Qayyim al-Jawzi. Ia dilahirkan di Murcia Andalusia, Spanyol bagian tenggara, 17 Ramad}an 560 H / 28 Juli 1165 M, pada masa pemerintahan Muhammad ibn Sa’id ibn Mardanisy. Ada pula yang mengatakan lahir pada tanggal 28 Rabi’ul Awwal 638 / 16 November 1240. Menurut Afifi, Ibn ‘Arabi berasal dari keluarga keturunan Arab yang saleh, dimana sang ayah dan ketiga pamannya dari jalur sang ibu adalah tokoh sufi yang terkenal, dan ia sendiri digelari Muhy ad-Din (penghidup agama) dan al-Syaikh al-Akbar (Doktor Maximus), karena gagasan-gagasannya yang besar terutama dalam mistik. Belum ada seorang tokoh muslim yang mencapai posisi sebagaimana kedudukannya. Ibn ‘Arabi wafat (baca: meninggal) di Damaskus dan di makamkan disana, pada tanggal 22 Rabi al-Tsani 638 H/Nopember 1240 M, dalam usia 78 tahun.

Pendidikannya berawal kala usianya delapan tahun, ketika keluarganya pindah ke Seville, di tempat inilah Ibn ‘Arabi kecil mulai belajar al-Qur’an dan fikih. Karena kecerdasannya yang luar biasa dalam belasan tahun usianya, ia diangkat menjadi sekretaris (katib) beberapa Gubernur di Seville. Yang perlu dicatat adalah kota Seville pada waktu itu merupakan kota ilmu pengetahuan dan menjadi pusat kegiatan sufisme. Kondisi keluarga dan lingkungan yang kondusif dan kaya akan dialektika keilmuan mempercepat pembentukan akan kematangan keilmuan yang dimilikinya. Di kota Seville ini pulalah kala melakukan safari ke pelbagai kota di Spanyol, Ibn ‘Arabi muda bertemu dengan Ibnu Rusyd (1126-1198 M).
Ketika usianya menginjak 30 tahun, Ibn ‘Arabi mulai berkelana dalam rangka menuntut ilmu. Mula-mula ia mendatangi kota pusat ilmu pengetahuan Islam di semenanjung Andalusia, kemudian ia pergi ke Tunis untuk menemani Abd al-Aziz al-Mahdawi (seorang ahli tasawuf), dan pada tahun 594 H / 198 M ia pergi ke Fez, Maroko, di kota ini dia menulis kitab al-isra' (perjalanan malam). Dan pada tahun berikutnya ia kembali ke Cordoba dan sempat menghadiri pemakaman Ibn Rusyd, kemudian ia pergi ke Almeira dan di sini ia menulis kitab mawaqi’ al-nujum (posisi planet). Pada tahun 598 H / 1202 M. Ibn ‘Arabi pergi ke kota suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.

Menurut pengakuannya, ia melakukan (baca: pergi) ke kota suci Mekkah karena mendapatkan ilham dari Allah SWT. Kala di kota suci Makkah ia tinggal di dekat Ka’bah dan hari-harinya diisi dengan kegiatan thawaf, membaca al-Qur’an dan i’tikaf sehingga ia merasakan adanya kontak dibalik suasana kerohaniannya itu. Berdasarkan kontak rohaninya, Ibn ‘Arabi menulis kitab yaitu Taj al-Rasa’il (mahkota risalah), ruh al-Qudus, dan Futuhat al-Makkiyyah (penaklukan mekkah). Menurutnya karya terakhir merupakan karya terbesar karena diterima langsung dari Allah SWT melalui ilham samawi, dengan kata lain, kitab Futuhat al-Makkiyyah dalam penulisannya didektekan langsung oleh Tuhan (Allah) melalui ilham, kata per kata.

Kemudian juga, di kota Mekkah inilah , Ibn ‘Arabi bertemu dengan seorang pemudi cantik, cerdas, shalihah, dan takwa yakni suatu figur wanita ideal yang bernama Ain Syams Nizam. Dalam perjumpaanya dengan wanita Ain Syams Nizam pada akhirnya menjadi sumber inspirasinya baginya dalam merangkai sya’ir yang kemudian dihimpun dalam kitab Turjuman al-Ashwaq (terjemahan rasa cinta) dan banyak lagi karya-karya yang lainnya.
Setelah ia melakukan lawatan (kunjungan) ke pelbagai negara Islam, pada akhirnya ia memilih untuk menetap di Damaskus sampai akhirnya beliau wafat. Ibn ‘Arabi hidup sezaman dengan para sufi besar lainnya seperti, Suhrawardi, Najmuddin ar-Razi, Muslihuddin Sa’di, Abu Hasan al-Magribi asy-Syadzili, Jalaluddin Rumi dan Ibnul Faridh.

B. Epistemologi Menurut Ibn ‘Arabi

Istilah epistemologi sebenarnya hampir sama tuanya dengan umur filsafat itu sendiri. Platon telah berupaya membahas masalah ini dalam rangka untuk mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ; apakah pengetahuan itu, dari mana pengetahuan itu diperoleh, dapatkan akal menemukan pengetahuan.

Sedangkan Ibn ‘Arabi dalam menjelaskan tentang epistemologi nampaknya agak berbeda dengan apa yang biasa dipahami dalam terminologi filsafat. Mistisisme Ibn ‘Arabi merupakan muara dari filsafat mistisnya. Dengan kata lain, epistemologi dalam konstruksi pemikiran Ibn ‘Arabi harus dipahami sebagai bangunan teori untuk memperoleh pengetahuan melalui mistiknya. Barangkali yang menjadi titik persamaan dengan pengertian epistemologi dalam semesta filsafat adalah sama-sama untuk menghilangkan skeptisisme.

Ibn ‘Arabi membedakan pengetahuan menjadi dua macam. Pertama, al-ma’rifat yang ia artikan sebagai “pengetahuan dengan pengenalan” yang secara eksklusif termasuk dalam jiwa. Kedua, al-Ilm, yang ia artikan sebagai pengetahuan intelek atau pemahaman luas. Dari pengklasifikasian ini, kita dirujuk olehnya untuk memahami doktrin teosofinya yang secara sistematis berawal dari uraian tentang jenis-jenis proposisi. Secara umum, ungkap Ibn ‘Arabi, semua pengetahuan dapat diperoleh melalui enam indera, lima indera biasa dan ditambah satu yaitu, intelek.

Proposisi atau penilaian menurut Ibn ‘Arabi dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu proposisi wajib dan proposisi kontigensi. Proposisi wajib pada dasarnya benar. Proposisi wajib meliputi : pertama, semua penilaian perseptual, tanpa dimasuki oleh pemahaman. Kedua, penilaian apriori dari logika formal, penilaian intelektual yang ada dengan sendirinya. Ketiga, penilaian intuitif atau esoterik.

Sedangkan proposisi kontigensi adalah proposisi atau penilaian-penilaian yang berdasarkan pemahaman dan indera-indera secara bersamaan. Proposisi kontigensi kadar kebenarannya adalah relatif, bisa salah dan bisa benar.

Menurut Ibn ‘Arabi bagian dari proposisi yang wajib yaitu, pengetahuan esoteris atau intuituf merupakan pengetahuan yang paling urgen (penting) dan sekaligus merupakan inti dari filsafat mistisnya tentang pengetahuan. Dalam istilah lain, sebagaimana dikutip oleh Rivay Siregar dalam bukunya “Tasawuf : Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme” bahwa jenis ini merupakan perjumpaan dengan pelbagai realitas dari segala sesuatu sebagaimana adanya. Dalam gugusan pemikiran Ibn ‘Arabi, realitas merupakan landasan pijak dari segala sesuatu, yang disebutnya dengan Haqiqat al-Haqaiq. Nampaknya pada akhirnya hal ini diadopsi oleh filsuf Barat yaitu Benedict Spinoza, dalam diktumnya ia menyebutkan bahwa “semua adalah satu, dan yang satu itu bersifat Ilahi”.

Dari hantaran sederhana di atas, epistemologi Ibn ‘Arabi ini dapat dilihat, bahwa ada titik perbedaan yang sangat mencolok antara seorang konstruksi pengetahuan yang dibangun oleh seorang filsuf dengan seorang mistikus yang beriman. Dengan kata lain, seorang filsuf tidak mampu berada di luar pernyataan transendensi absolut dari Tuhan. Akan tetapi, seorang mistikus yang beriman mengetahui secara langsung dengan dzauqnya akan aspek transendensi dan immanensi dari realitas tersebut. Hantaran ini dimaksudkan untuk mempermudah kita dalam rangka untuk memahami konsep Wah}dah al-Wuju.

Konsep Wahdah al-Wujud Ibn ‘Arabi
A. Pengertian Wahdah al-Wujud

Konsep wahdah al-wujud memiliki pelbagai pengertian tergantung kepada tokoh yang memahami dan menghayatinya. Dalam studi barat, terminologi wahdah al-wuju


DAFTAR PUTAKA
  • Abd. A’la. Melampaui Agama, Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2002.
  • Abdul Aziz. Tasawwuf Sunni dan Tasawuf Sufi: Tinjauan Filosofis, Ulumul Qur’an 1991, (Vol. II), 28.
  • Afifi. (.tt). Filsafat Mistis Ibn ‘Arabi. Terj. Nandi Rahman.1989. Jakarta : Media Pratama.
  • al-Biqa‘i, Burhan al-Din. Masra‘ al-Tashawwuf, aw, Tanbih al-Ghabi ila Takfir Ibn ‘Arabi ed. ‘Abd ar-Rahman al-Wakil, Bilbis: Dar al-Taqwa, 1989.
  • al-Suyuthi. Tanbih al-Ghabi fi Takhti’ati Ibn ‘Arabi>, ed. ‘Abd ar-Rahman Hasan Mahmud, Kairo: Maktabat al-Adab, 1990.
  • Arberry. Sufism An Accoun of the Mystics of Islam, London : Unwin Paperback, 1975.
  • Chittick, C. William. Imaginal Worlds: Ibn ‘Arabi and the problem of religious Diversity, Al Bany: State University of New York Press, 1994
  • Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam , cet. IV, Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2000.
  • Hasyimasah. (.Tt). Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT. Intermasa.
  • Hadiwijoyo, Harun. 1985. Kebatinan Islam Abad XVI , Jakarta : Gunung Mulia.
  • Ibn ‘Arabi. Futuhat al-Makkiyah, (Vol. II) Kairo : al-Maktabah al-Arabiyah, 1979.
  • ............., Fushus al-Hikam, Kairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1946.
  • Sangidu. Wachdatul Wujud, Yogyakarta: Gama Media, 2003.
  • Schimmel, Annemarie. (.tt). Rahasia Wajah Suci Ilahi. Terj. Rahmani Astuti. Bandung : Mizan, 2003.
  • Simuh. 1989. Sufisme Jawa Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik, Yogyakarta : Bentang Pustaka, 1989.
  • Siregar, A. Rivay, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme, Jakarta : PT RajaGrasindo Persada, 1999.
  • Taftazani. (.tt). Sufi Dari Zaman ke Zaman. Terj. A. Rafi Usman. 1985. Bandung : Pustaka
  • Azhari Noer, Kautsar. 1995. Ibn ‘Arabi Wahdah al-wujud dalam perdebatan, Jakarta: Paramadina
Tentang Dia - As-SanaiJangan membicarakan kepiluanmu-karena Dia yang berbicara.
Jangan mencari-Nya-karena Dia yang mencari.
Dia bahkan merasakan sentuhan kaki semut;
Bila batu di bawah air bergerak
Dia mengetahuinya.
Jika ada cacing di bebatuan
Dia tahu tubuhnya, lebih kecil dari atom.
Suara doanya, dan maksudnya yang tersembunyi,
Dia tahu melalui pengetahuan Ilahiah-Nya.
Dia memberi cacing makanannya;
Dia telah menunjukkan kepadamu jalan Ajaran.
Orang yang tidur - As-SanaiSaat ummat manusia tetap merupakan benda semata di dunia
Maka akan dibawa serta, seperti dalam kapal, tertidur.
Apa yang dapat mereka lihat dalam tidur?
Manfaat atau hukuman apa yang ada?
Older Posts Home
  • Terkini
  • Komentar
Twitter
Design and Maintenance By txb4.com

Video

Penyair

Abdul Hadi Widji Muthari (24) Abdurrahman Jami (1) Abu Nawas (1) Abu Tanam (1) Aidh al-Qarni (2) Aisyah ra. (2) Al Futuhat (1) Al Ghazali (1) Al Muktashim (2) Ali Bin Abi Thalib. (1) An-Niffari (3) As-Sadi Asy-Syairazi (1) As-Sanai (6) Asy Syafii (13) BJ Habibie (2) Bung Karno (4) Chairil Anwar (72) Dorothy Law Nolte (2) Elia Abu Madhi (1) Fariduddin Attar (4) Gabriela Mistral (1) HAMKA (6) Hafiz (5) Hamzah Al-Fansuri (5) Hasan al Basri (1) Ibn ‘Arabi (2) Ibnu Sina (1) Imam Bukhari (1) Jalaluddin Rumi (108) KH. Abdurrahman Wahid (1) Khalil Gibran (62) Muhammad Iqbal (7) Mustofa Bisri (6) Rabiah (21) Sunan Bonang (2) Sunan Kalijaga (1) Taufiq Ismail (38) Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud (1) Umar Khayyam (17) Unknown (2) WS Rendra (23) Yunus Emre (16)

Hamka

Hamzah Al-Fansuri

As-Sanai

Sunan Bonang

Sunan Kalijaga

Page

  • Home
  • About

Network

  • txb4.com
  • baguus.com

Blogroll

  • baguslagu
  • bagustivi
  • baguskata
  • bagusradio
  • bagusaudio
  • bagusvideo
  • bagusdoa
  • bagusngaji

Photos and Graphics on Flickr

Welcome


Puisi adalah ragam sastra yg bahasanya bisa terikat atau tidak oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; atau gubahan dl bahasa yg bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.


Puisi, Puisi & Puisi


Puisi (dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.



Kumpulan puisi penyair populer yang banyak mengandung makna menyikapi rasa, hati, dan jiwa. Hidup tanpa puisi bagai cinta tanpa jiwa

Populer (Last 7 days)

  • Dawai Sang Sufi - Al Futuhat
  • Penebusan - Bung Karno
  • Utuy Tatang Sontani
  • Maut dan Waktu - Abdul Hadi Widji Muthari
  • Seorang tergantung ilmu dan takwanya - Imam Asy-Syafi'i
  • Syair-Syair Erotis Ibn Arabi
  • Tentang Cinta - Imam Asy-Syafi'i
  • Persetujuan - Taufiq Ismail
  • Bekalku memang masih sedikit Sedang aku belum melihat tujuanku
  • La strada atau jalan terpanggang ini - Taufiq Ismail

Total Pageviews

Mutiara kata

Puisi bukanlah pendapat yang dinyatakan. Ia adalah lagu yang muncul daripada luka yang berdarah atau mulut yang tersenyum. (Khalil Gibran)
  • Chairil Anwar
  • Taufiq Ismail
  • Rendra
  • RUMI
  • GIBRAN
© 2011 - bagus prijambudi
Home