• Home
  • About
  • Subscribe to my RSS
  • @bprijambudi on Twitter
  • comments
  • Home
  • Profil Penyair
    • Indonesia
    • Persia
    • Dunia
    • Sufi
  • Puisi Penyair
    • Indonesia
      • Hamzah Al-Fansuri
      • Chairil Anwar
      • W.S. Rendra
      • Taufiq Ismail
    • Dunia
      • Fariduddin Attar
      • Jalaluddin Rumi
      • Rabiah Al-Adawiyah Al-Bashriah
      • Khalil Gibran
    • Sufi
      • Fariduddin Attar
      • Jalaluddin Rumi
      • Rabiah Al-Adawiyah Al-Bashriah
  • Network
    • baguslagu
    • baguskata
    • bagustivi
    • bagusaudio
    • bagusradio
    • bagusvideo
    • bagusdoa
    • bagusngaji
You are here : Home »
Showing posts with label Bung Karno. Show all posts
Dan proklamasi kita itu
Menderu di udara
Sebagai arus listrik
Yang mengantarkan jiwa bangsa kita!

Seluruh rakyat kita
Seluruh bangsa kita
Menyambut proklamasi kita itu
Sebagai penebusan janji pusaka yang lama
Sebagai aba-aba yang mengeledak
Untuk memulai kehidupan yang baru
Jika aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar lautan Indonesia bergelora
Membanting di pantai Ngeliyep itu
Aku mendengar lagu – sajak Indonesia

Jikalau aku melihat
Sawah menguning menghijau
Aku tidak melihat lagi
Batang padi menguning – menghijau
Aku melihat Indonesia

Jika aku melihat gunung-gungung
Gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu
Gunung Tangkupan Prahu, gunung Klebet
Dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengar pangkur palaran
Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jika aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa
Dengan mata yang bersinar-sinar
(berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka!

Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia!
Pertanyaan lain yang akan diajukan ialah
Apakah Soekarno seorang komunis?

Aku adalah seorang indifidualis
Manusia yang congkak dengan suara batin yang menyala-nyala
Manusia yang mengakui bahwa ia mencintai dirinya sendiri
Tidak mungkin menjadi satelit yang melekat pada bangsa lain
Aku tidak mungkin menghambakan diri
Pada dominasi kekuasaan mana pun juga
Aku tidak mungkin menjadi boneka

Orang komunis menginginkan satu bangsa duni
Mereka meniadakan nasionalisme
Untuk kepentingan internasionalisme
Aku adalah seorang nasionalisme revolusioner
Seorang ultra-nasionalis
Seorang supra-nasionalis

Bukankah Komunisme dan Soekarnoisme
mempunyai perbedaan-perbedaan ideologis?
Abad ini adalah suatu zaman di mana bangsa-bangsa baru
dan merdeka di benua Asia dan Afrka mulai berkembang.
Berkembangnya negar-negara Sosialis
yang meliputi seribu juta manusia.
Abad in pun dinamakan Abad Atom
dan Abad Ruang Angkasa

Dan mereka yang dilahirkan dalam Abad Revolusi kemanusiaan ini
terpikat oleh suatu kewajiban untuk menjalankan
tugas-tugas kepahlawanan

Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam
Tanggal enam bulan enam. Adalah menjadi nasibku yang
paling baik dilahirkan dengan bintang Gemini
Lambang kekembaran. Dan itulah sesungguhnya
Dua sifat yang berlawanan
Aku bisa lunak dan aku bisa cerewet
Aku bisa keras dan laksana baja
dan aku bis lembut dan berirama
Pembawaankau adalah paduan dari
Pikiran sehat dan getaran perasaan
Aku seorang yang suka memaafkan
akan tetapi aku pun seorang yang keras kepala
Aku menjebloskan musuh-musuh Negara ke belakang jerajak besi
namun demikian aku tidak sampai hati
membiarkan burung terkurung di dalam sangkar

Aku menjatuhkan hukuman mati
namun aku tak pernah mengangkat tangan
untuk memukul mati seekor nyamuk.
Sebaliknya aku berbisik kepada binatang itu
“hayo nyamuk, pergilah, jangan gigit aku”

Karena aku terdiri dari dua belahan
Aku dapat memperlihatkan segala rupa
Aku dapat mengerti semua pihak
Aku memimpin semua orang
boleh jadi ini secara kebetulan bersamaan
Akan tetapi kedua belahan dari watakku itu
Menjadikanku seorang yang merangkul semuanya

Ibu telah memberikan pangestu kepadaku
ketika aku baru berumur beberapa tahun
Di pagi ia sudah bangun sebelum matahari terbit
dan duduk di dalam gelap di beranda muka kami yang kecil
tiada bergerak. Ia tidak berbuat apa-apa
hanya memandang ke arah timur
dan dengan sabar menantikan hari akan siang

Aku pun bangun dan mendekatinya
Diulurkannya kedua belah tangannya
dan meraih badanku yang kecil ke dalam pelukannya
Sambil mendekapkan tubuhku ke dadanya
ia memelukku dengan tenang
Kemudian dia berbicara dengan suara lunak
“Engkau sedang memandang fajar, Nak.
Ibu katakana padamu, kelak engkau akan menjadi
orang yang mulia, engkau akan menjadi
pemimpin dari rakyat kita.
Karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi
di saat fajar mulai menyingsing
Kita orang Jawa mempunyai kepercayaan
bahwa orang yang dilahirkan saat matahari terbit
nasibnya telah ditakdirkan lebih dahulu
Jangan lupakan itu
Jangan sekali-kali kau lupakan, Nak, bahwa
engkau ini putra Sang Fajar.”

Bersamaan dengan kelahiranku
menyingsinglah fajar dari suatu hari yang baru
dan menyingsing pulalah fajar dari satu abad yang baru
Karena aku dilahirkan di tahun 1901

Bagi Bangsa Indonesia, abad kesembilan belas
merupakan zaman yang gelap
sedangkan zaman sekarang baginya adalah
zaman yang terang benderang dalam menaiknya
pasang revolusi kemanusiaan.

Masih ada pertanda lain ketika aku dilahirkan
Gunung Kelud, yang tidak jauh tempatnya dari tempat kami, meletus
Orang yang percaya kepada tahayul meramalkan,
“ini adalah penyambutan terhadap bayi Soekarno”

Sebaliknya orang Bali mempunyai kepercayaan lain
Kalau gunung Agung meletus berarti
bahwa rakyat telah melakukan maksiat
Jadi orang pun dapat mengatakan
bahwa gunung Kelud sebenarnya tidak menyambut bayi Soekarno
Gunung Kelud malah menyatakan kemarahannya
karena anak yang jahat lahir ke muka bumi ini
Berlainan dengan pertanda-pertanda yang
mengiringi kelahiran itu
maka kelahiran itu sendiri sangatlah menyedihkan
Bapak tidak mampu memanggil dukun
untuk menolong anak yang akan lahir

Keadaan kami terlalu ketiadaan
Satu-satunya orang yang menghadapi itu
ialah seorang kawan dari keluarga kami
Seorang kakek yang sudah terlalu amat tua
Dialah, dan tak ada orang lain selain orang tua itu
yang menyambutku menginjak dunia ini.
Older Posts Home
  • Terkini
  • Komentar
Twitter
Design and Maintenance By txb4.com

Video

Penyair

Abdul Hadi Widji Muthari (24) Abdurrahman Jami (1) Abu Nawas (1) Abu Tanam (1) Aidh al-Qarni (2) Aisyah ra. (2) Al Futuhat (1) Al Ghazali (1) Al Muktashim (2) Ali Bin Abi Thalib. (1) An-Niffari (3) As-Sadi Asy-Syairazi (1) As-Sanai (6) Asy Syafii (13) BJ Habibie (2) Bung Karno (4) Chairil Anwar (72) Dorothy Law Nolte (2) Elia Abu Madhi (1) Fariduddin Attar (4) Gabriela Mistral (1) HAMKA (6) Hafiz (5) Hamzah Al-Fansuri (5) Hasan al Basri (1) Ibn ‘Arabi (2) Ibnu Sina (1) Imam Bukhari (1) Jalaluddin Rumi (108) KH. Abdurrahman Wahid (1) Khalil Gibran (62) Muhammad Iqbal (7) Mustofa Bisri (6) Rabiah (21) Sunan Bonang (2) Sunan Kalijaga (1) Taufiq Ismail (38) Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud (1) Umar Khayyam (17) Unknown (2) WS Rendra (23) Yunus Emre (16)

Hamka

Hamzah Al-Fansuri

As-Sanai

Sunan Bonang

Sunan Kalijaga

Page

  • Home
  • About

Network

  • txb4.com
  • baguus.com

Blogroll

  • baguslagu
  • bagustivi
  • baguskata
  • bagusradio
  • bagusaudio
  • bagusvideo
  • bagusdoa
  • bagusngaji

Photos and Graphics on Flickr

Welcome


Puisi adalah ragam sastra yg bahasanya bisa terikat atau tidak oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; atau gubahan dl bahasa yg bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.


Puisi, Puisi & Puisi


Puisi (dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.



Kumpulan puisi penyair populer yang banyak mengandung makna menyikapi rasa, hati, dan jiwa. Hidup tanpa puisi bagai cinta tanpa jiwa

Populer (Last 7 days)

  • Bekalku memang masih sedikit Sedang aku belum melihat tujuanku
  • Syair-Syair Erotis Ibn Arabi
  • Sebuah kamar - Chairil Anwar
  • Karena Cinta - Jalaluddin Rumi
  • Utuy Tatang Sontani
  • Dari catatan seorang demonstran - Taufiq Ismail
  • Trisno Sumardjo
  • Andai cintaku
  • La strada atau jalan terpanggang ini - Taufiq Ismail
  • Dia tidak di tempat lain - Jalaluddin Rumi

Total Pageviews

Mutiara kata

Puisi bukanlah pendapat yang dinyatakan. Ia adalah lagu yang muncul daripada luka yang berdarah atau mulut yang tersenyum. (Khalil Gibran)
  • Chairil Anwar
  • Taufiq Ismail
  • Rendra
  • RUMI
  • GIBRAN
© 2011 - bagus prijambudi
Home